Tanya Jawab InKeSa

Berikut ini adalah pertanyaan – pertanyaan yang sering diajukan oleh calon investor InKeSa. Kami sajikan pertanyaan dan jawaban di sini untuk mempermudah Anda memperoleh jawaban yang Anda butuhkan. Apabila Anda masih ada pertanyaan lain yang belum terjawab di sini, jangan ragu – ragu untuk menghubungi Kami melalui formulir kontak atau menghubungi nomor yang tersedia.

Mohon penjelasan jenis bibit yang ditanam, dari mana bibit diperoleh, dan berapa jumlah pohon yang ditanam per hektarnya?

Bibit yang Kami tanam adalah bibit sawit unggulan jenis Tenera. Jenis sawit ada 3 macam: Dura, Pisifera, dan Tenera.

  1. Dura: merupakan sawit yang buahnya memiliki cangkang tebal sehingga dianggap memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan buahnya besar-besar dan kandungan minyak pertandannya berkisar 18%.
  2. Pisifera: buahnya tidak memiliki cangkang namun bunga betinanya steril sehingga sangat jarang menghasilkan buah.
  3. Tenera: adalah persilangan antara induk Dura dan Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing-masing induk dengan sifat cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap fertil. Beberapa Tenera unggul persentase daging per buahnya dapat mencapai 90% dan kandungan minyak pertandannya dapat mencapai 28%. Jadi bibit yang kami tanam adalah bibit unggulan.

Pembelian bibit atau kecambah kelapa sawit diperoleh dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan. Jadi kualitas bibit sudah tidak diragukan lagi dan terhindar dari risiko kualitas pohon yang jelek atau tidak produktif. Kisaran standar jumlah pohon yang ditanam per hektar antara 130 sampai 136 pohon (seperti yang tercantum dalam surat perjanjian).

Mohon penjelasan tentang sistem bagi hasil yang tercantum dalam tabel pendapatan?

Nominal bagi hasil yang Kami cantumkan dalam tabel adalah asumsi pendapatan minimal. Jadi Kami tidak memberikan janji dengan angka yang muluk-muluk atau menggiurkan dengan tujuan agar mudah menarik investor. Angka bagi hasil pendapatan tersebut adalah angka minimal yang akan diterima. Jadi Kami memakai acuan standar keuntungan minimal. Perkara nanti ada kenaikan harga secara signifikan yang meningkatkan jumlah pendapatan, ya kita lebih bersyukur lagi kan?.. Yang jelas Kami sampaikan informasi ke calon investor dengan apa adanya, bukan dengan memberi janji keuntungan yang menggiurkan. Kami menyajikan data secara faktual dengan menyampaikan laporan perkembangannya.

Apa bedanya program INKESA dengan KKPA?

KKPA singkatan dari Kredit Kepada Koperasi Primer untuk Anggotanya atau KKPA Perkebunan Kelapa Sawit adalah KKPA yang diberikan untuk pembangunan kebun kelapa sawit petani anggota koperasi primer. Oleh karena jangka waktu pembangunan kebun ini cukup panjang dan masa pengembaliannya juga lama, maka jenis kredit ini termasuk dalam kredit investasi. Kredit ini dikembalikan atau diangsur sesuai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan berdasarkan perjanjian bersama dengan bank. Besarnya cicilan kredit termasuk bunga dihitung dengan persentase tertentu dari hasil kotor kebun sesuai dengan perjanjian antara bank dengan koperasi.
Namun akhir-akhir ini model KKPA tidak diminati masyarakat karena berpengaruh terhadap semakin kecilnya bagi hasil yang diperoleh saat tanaman sudah menghasilkan karena harus berbagi keuntungan juga. Sedangkan dalam konsep INKESA, koperasi (dalam hal ini KJP-Cipta Prima Sejahtera) berperan sebagai koperasi inti plasma (setara dengan perusahaan bisnis dibidang sawit) dan yang berperan sebagai bank pemodal adalah investor itu sendiri. Jadi disini tidak melibatkan peran bank atau fihak lain dalam pembiayaan bisnis kebun sawit. Dengan demikian, pendapatan ketika sudah panen atau tanaman menghasilkan tidak di bagi ke fihak lain (bank), tapi sepenuhnya menjadi milik investor (setelah dikurangi biaya manajemen dari koperasi KJP-CPS). Jadi model ini tentu lebih menguntungkan.

Apa bedanya koperasi inti plasma (seperti KJP) dengan koperasi plasma?

Koperasi inti plasma ia setara dengan perusahaan bisnis dibidang perkebunan sawit. Sedangkan koperasi plasma umumnya ia mengelola 20% dari lahan kebun sawit yang dikelola oleh perusahaan tentunya sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Kami dapat info di internet (seperti kaskus/forum jual beli lainnya) harga lahan dan biaya perawatan tanaman jauh lebih murah dibanding harga dan biaya dari program INKESA. Mohon infonya?

Berdasarkan pengalaman kami, informasi tersebut masih banyak yang harus dikonfirmasi. Banyak penawaran lahan dan kebun sawit dengan harga terjangkau tapi masih banyak syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi. Dan jika dikalkulasikan, malah biayanya lebih besar dan berisiko (artinya tidak memberikan garansi aman dalam bisnis kebun sawit). Maka kami sarankan, teliti dan kaji sebelum membeli. Dan untuk menghindari risiko bisnis, bermitra dengan institusi yang legal atau berbadan hukum itu lebih aman dibanding bermitra secara perorangan atau kelompok yang tidak ada perjanjian atau ikatan yang kuat dan legal secara hukum.

Saran Kami, menyikapi hal-hal tersebut, yang perlu dicek adalah:

  • Pastikan status kepemilikan lahan yang ditawarkan (Surat Keterangan Tanah/SKT, Sertifikat Hak Milik/SHM, atau lainnya).
  • Pastikan apakah harga/biaya yang ditawarkan tersebut sudah bersih atau masih ada yang berstatus konfirmasi. Misalnya: harga tanah sewaktu-waktu bisa berubah, masih berstatus nego dengan pemilik tanah, ada biaya pengurusan lahan, dll.

Jadi saran kami, hindari sekecil apapun bentuk risikonya dan pertimbangkan jika ada penambahan biaya-biaya yang lain, termasuk waktu dan tenaga untuk mengurusnya.

Berdasarkan informasi yang saya dapat, tanaman sudah mulai berbuah pada tahun ke-3 dan bagi hasil bisa dimulai pada tahun tersebut, kok di INKESA baru mulai ada bagi hasil pada tahun ke-4?

Umumnya, di tahun ke-3, tanaman sudah mulai berbuah. Buah tersebut dinamakan buah pasir. Belum bisa dipanen atau kalaupun dipanen produktivitas masih rendah atau tidak menghasilkan.

Setelah melewati usia tanam ke-28 tahun atau tanaman menghasilkan ke-25, bagaimana status perjanjian investasi selanjutnya?

Setelah usia tanam ke-28 tahun maka akan dilakukan peremajaan lahan. Karena pohon sudah tidak produktif lagi menghasilkan buah. Nah sebelum perjanjian itu berakhir, kami menawarkan kembali ke investor apakah kontrak perjanjian dilanjutkan atau putus. Jika lanjut, maka akan disiapkan mekanisme yang sudah ditentukan. Jika tidak, ya tidak jadi soal.