Kelapa Sawit: Sektor Andalan Yang Lebih Prospektif

   kunjungan kebun TM

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa bisnis perkebunan kelapa sawit lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan perkebunan tebu dan karet karena rasio persentase biaya komoditas andalan Indonesia tersebut lebih rendah dibandingkan yang lain yaitu dengan rasio persentase biaya setahun yang lebih rendah jika dibanding dengan perkebunan karet dan tebu. Secara struktur, biaya produksi kelapa sawit paling banyak dikeluarkan untuk biaya tenaga kerja yang mencapai 31,71 persen, sementara karet jauh lebih tinggi mencapai 57,09 persen sedangkan tebu sebesar 26,21 persen.

Gambaran total nilai produksi untuk tanaman sawit per tahun per hektar sebesar Rp17 juta, sementara biaya produksi hanya berkisar 57,05 persen atau senilai 9,7 juta per hektar. Sedangkan karet memiliki nilai total produksi sebesar Rp12,9 juta dan untuk biaya produksi mencapai 71,54 persen atau senilai Rp9,2 juta. Dan untuk tebu, nilai total produksi sebesar Rp31 juta, dan biaya produksi Rp24,2 juta atau 77,98 persen. Sehingga berdasarkan data tersebut kegiatan usaha kelapa sawit secara relatif lebih menguntungkan dibandingkan karet dan tebu.

Pada komoditas kelapa sawit, sebagian besar biaya dipergunakan untuk membayar upah tenaga kerja sebesar 31,71 persen dengan jenis kegiatan terbesar berada pada proses pemanenan yang mencapai 19,85 persen dari seluruh total biaya. Jenis pengeluaran lain yang cukup besar pada struktur pengeluaran kelapa sawit adalah, pengeluaran untuk sewa lahan (jikastatusnya sewa)yang mencapai 30,97 persen, sementara rata-rata jumlah pengeluaran untu pupuk, pestisida dan stimulan masing-masing sebesar 18,44 persen, 2,33 persen, dan 0,05 persen.

Sementara untuk struktur pengeluaran komoditas tanaman karet relatif memiliki kesamaan dengan kelapa sawit, namun dari sisi pengeluaran tenaga kerja untuk pemanenan menghabiskan porsi paling besar mencapai 57,09 persen dari total biaya. Sedangkan untuk tebu, memiliki pola struktur rata-rata pengeluaran yang sedikit berbeda dengan komoditas kelapa sawit dan karet, dimana rata-rata biaya untuk jasa pertanian relatif cukup besar mencapai 4,74 persen.

Prospektif keberlanjutan bisnis perkebunan kelapa sawit juga tidak perlu diragukan, sejak 1911 ketika dimulai usaha perkebunan sawit di Sumatera Utara, terbukti masih bisa bertahan dan bahkan menjadi salah satu sektor komoditas andalan perekonomian Indonesia. Sektor ini juga mampu menyerap tenaga kerja yang cukup besar. Jika rata-rata satu keluarga punya anggota keluarga satu istri dan dua anak, maka tidak kurang 16 juta jiwa yang menggantungkan kehidupan pada bisnis perkebunan kelapa sawit ini.

Sumber: Berita Sawit

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *